Sel Mast dan Mediator — Aktor Utama di Balik Gejala Alergi

Bersin, hidung meler, gatal, tersumbat — semua gejala ini bermula dari satu sel kecil yang "meledak." Kenali sel mast dan bahan kimia yang dilepaskannya saat reaksi alergi terjadi.

Seri Penyakit Alergi Diterbitkan 20 Mei 2026 sel masthistaminleukotrienprostaglandin
Infografis sel mast dan mediator: antigen mengikat IgE, degranulasi, pelepasan histamin, serotonin, prostaglandin, leukotrien
Sel mast: aktivasi oleh alergen, degranulasi, dan pelepasan mediator preformed (histamin, serotonin) serta mediator dari asam arakidonat (prostaglandin, leukotrien)

Mengenal sel mast — si "penjaga" yang terlalu sensitif

Sel mast adalah sel imun yang tersebar di jaringan tubuh, terutama di lokasi yang sering terpapar lingkungan luar: mukosa hidung, saluran napas, kulit, dan saluran pencernaan. Dalam kondisi normal, sel mast berperan penting dalam pertahanan terhadap parasit dan penyembuhan luka.

Namun pada penderita alergi, sel mast menjadi "terlalu sensitif" — bereaksi terhadap alergen yang sebenarnya tidak berbahaya. Permukaan setiap sel mast dipenuhi oleh puluhan ribu molekul IgE yang mengikat reseptor FcεRI dengan sangat kuat.

Proses degranulasi — saat sel mast "meledak"

Ketika alergen (antigen) masuk ke mukosa hidung dan mengikat dua molekul IgE yang berdekatan di permukaan sel mast (cross-linking), ini memicu sinyal intraseluler yang menyebabkan degranulasi — sel mast melepaskan isi granulanya ke jaringan sekitar.

Proses ini terjadi dalam hitungan detik hingga menit, dan hasilnya adalah pelepasan dua kelompok besar mediator:

Mediator preformed — sudah siap pakai

Mediator ini sudah tersimpan di dalam granula sel mast, siap dilepaskan begitu degranulasi terjadi:

  • Histamin — mediator paling utama. Berikatan dengan reseptor H1 di pembuluh darah (menyebabkan vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas = hidung tersumbat dan meler), saraf sensorik (menyebabkan gatal dan bersin), dan kelenjar mukus (meningkatkan sekresi). Efeknya muncul dalam 5 menit dan berlangsung 1–2 jam.
  • Serotonin — berperan dalam regulasi permeabilitas vaskular dan kontraksi otot polos. Efeknya pada rinitis alergi lebih kecil dibanding histamin.
  • Faktor kemotaktik — zat yang "memanggil" sel-sel inflamasi lain (eosinofil, neutrofil) untuk datang ke lokasi reaksi, memperberat dan memperpanjang inflamasi.
  • Protease (triptase, kimase) — enzim yang merusak jaringan sekitar dan mengaktifkan jalur inflamasi lain.

Mediator dari asam arakidonat — diproduksi saat aktivasi

Selain melepaskan mediator yang sudah jadi, sel mast yang teraktivasi juga memproduksi mediator baru dari asam arakidonat (komponen membran sel). Proses ini memakan waktu lebih lama (15–30 menit) tetapi efeknya lebih kuat dan bertahan lebih lama:

Jalur siklooksigenase (COX) → Prostaglandin

  • Prostaglandin D2 (PGD2) — menyebabkan vasodilatasi, meningkatkan permeabilitas vaskular, dan merekrut eosinofil ke jaringan. Berperan penting dalam hidung tersumbat yang berkepanjangan.
  • Tromboksan A2 — menyebabkan kontraksi otot polos dan agregasi trombosit.

Jalur lipoksigenase (LOX) → Leukotrien

  • Leukotrien C4, D4, E4 (cysteinyl leukotrienes) — 100–1000 kali lebih kuat dari histamin dalam menyebabkan edema mukosa dan sekresi mukus. Mereka adalah penyebab utama hidung tersumbat kronis pada rinitis alergi.
  • Leukotrien B4 (LTB4) — kemotaksis kuat untuk eosinofil dan neutrofil.

Dari mediator ke gejala klinis

MediatorEfekGejala
HistaminStimulasi saraf sensorikBersin, gatal hidung
HistaminSekresi kelenjarRhinorrhea encer
Histamin + PGD2VasodilatasiHidung tersumbat awal
Leukotrien C4/D4Edema mukosa persistenHidung tersumbat berkepanjangan
Faktor kemotaktikRekrutmen eosinofilInflamasi fase lambat

Implikasi untuk terapi

Memahami mediator-mediator ini menjelaskan mengapa pendekatan terapi yang berbeda bekerja pada gejala yang berbeda:

  • Antihistamin — memblokir reseptor H1, efektif untuk bersin, gatal, dan rhinorrhea, tetapi kurang optimal untuk hidung tersumbat.
  • Anti-leukotrien (montelukast) — memblokir reseptor leukotrien, membantu mengurangi hidung tersumbat dan sekresi mukus.
  • Kortikosteroid intranasal — menekan produksi hampir semua mediator sekaligus, bekerja pada semua gejala. Ini alasan mengapa obat ini dianggap terapi lini pertama untuk rinitis alergi sedang-berat.
  • Stabilisator sel mast (cromoglycate) — mencegah degranulasi sel mast, digunakan sebagai profilaksis sebelum paparan alergen.

Catatan medis. Informasi di halaman ini bersifat edukatif. Diagnosis dan terapi rinitis alergi harus berdasarkan pemeriksaan oleh dokter spesialis. Konsultasikan kondisi Anda ke Spesialis THT-BKL atau Konsultan Alergi Imunologi untuk penilaian yang akurat.

Cek pilek Anda dalam 2 menit

Skrining berbasis SFAR + ARIA. Hasil + rekomendasi terapi langsung di layar.

Mulai Skrining Gratis →

Ingin Tahu Lebih Lanjut?