Prostaglandin dan Leukotrien — Mediator yang Memperparah Alergi

Di balik hidung tersumbat yang tidak mempan antihistamin, ada dua kelompok mediator kuat yang bekerja: prostaglandin dan leukotrien. Keduanya berperan dalam fase akut dan kronis reaksi alergi.

Seri Penyakit Alergi Diterbitkan 20 Mei 2026 prostaglandinleukotrienasam arakidonatfase kronis
Infografis prostaglandin dan leukotrien: alergen memicu sel mast, LTC4 fase akut, eosinofil dan kemotaksis, LTB4/LTD4/LTE4 fase kronis
Jalur prostaglandin dan leukotrien: dari paparan alergen di mukosa hingga fase akut (5-30 menit) dan fase kronis (3-10 jam)

Asal usul: asam arakidonat

Prostaglandin dan leukotrien berasal dari sumber yang sama — asam arakidonat, sebuah asam lemak yang merupakan komponen normal membran sel. Ketika sel mast teraktivasi oleh alergen, enzim fosfolipase A2 memecah membran sel dan melepaskan asam arakidonat.

Asam arakidonat kemudian dimetabolisme melalui dua jalur enzim utama:

  • Jalur siklooksigenase (COX) → menghasilkan prostaglandin dan tromboksan
  • Jalur 5-lipoksigenase (5-LOX) → menghasilkan leukotrien

Kedua jalur ini saling melengkapi dan bersama-sama bertanggung jawab atas gejala yang tidak bisa diatasi oleh antihistamin saja.

Fase akut (5–30 menit): LTC4 memulai serangan

Segera setelah alergen memicu degranulasi sel mast, leukotrien C4 (LTC4) mulai diproduksi. LTC4 adalah leukotrien pertama yang dihasilkan dan merupakan "pemicu awal" dari kaskade leukotrien.

Efek LTC4 pada fase akut:

  • Peningkatan permeabilitas vaskular — dinding pembuluh darah menjadi lebih "bocor," menyebabkan plasma merembes ke jaringan (edema).
  • Peningkatan aliran darah lokal — vasodilatasi menyebabkan mukosa membengkak dan memerah.
  • Stimulasi sekresi mukus — kelenjar mukosa memproduksi lendir secara berlebihan.

Efek ini berlangsung cepat (dalam 5–30 menit setelah paparan) dan sejajar dengan efek histamin, tetapi lebih kuat dan lebih tahan lama. Inilah alasan mengapa antihistamin saja sering tidak cukup mengatasi hidung tersumbat pada fase akut.

Transisi: eosinofil dan kemotaksis

LTC4 yang dihasilkan sel mast juga berfungsi sebagai sinyal kemotaktik — "memanggil" eosinofil, basofil, dan sel-sel inflamasi lain dari sirkulasi darah ke mukosa hidung. Proses migrasi sel-sel ini memakan waktu beberapa jam.

Ketika eosinofil tiba di jaringan, mereka juga memproduksi leukotrien dalam jumlah besar — khususnya LTB4, LTD4, dan LTE4. Ini menandai dimulainya fase kronis.

Fase kronis (3–10 jam): kerusakan yang berkelanjutan

Pada fase ini, konsentrasi leukotrien di mukosa jauh lebih tinggi karena banyak sel (sel mast, eosinofil, basofil) secara bersamaan memproduksi mediator ini:

LTB4 — si pemanggil tentara

Leukotrien B4 adalah agen kemotaktik paling kuat untuk eosinofil dan neutrofil. LTB4 terus-menerus memanggil sel-sel inflamasi baru ke mukosa, memperbesar "pasukan perang" di jaringan.

LTD4 dan LTE4 — si perusak

  • LTD4 — 100 kali lebih kuat dari histamin dalam menyebabkan kontraksi otot polos bronkus dan edema mukosa. Ini mediator utama di balik bronkokonstriksi pada asma alergi dan obstruksi nasal kronis pada rinitis.
  • LTE4 — meskipun lebih lemah, LTE4 memiliki waktu paruh yang paling lama dan terus menyebabkan edema, sekresi mukus kental, dan kerusakan epitel selama berjam-jam.

Dampak klinis fase kronis

  • Sekresi mukus kental — berbeda dari rhinorrhea encer di fase akut, mukus menjadi lebih kental dan sulit dikeluarkan.
  • Edema persisten — pembengkakan mukosa yang tidak mereda, menyebabkan sumbatan hidung konstan.
  • Kerusakan jaringan (tissue destruction) — protein toksik dari eosinofil (ECP, MBP) bersama leukotrien merusak epitel mukosa, mengganggu fungsi silia, dan memicu remodeling jaringan.

Peran prostaglandin (jalur COX)

Sementara leukotrien mendominasi, prostaglandin juga berkontribusi:

  • PGD2 — diproduksi oleh sel mast, menyebabkan vasodilatasi dan merekrut sel Th2 serta eosinofil. Berperan dalam "mempertahankan" suasana Th2 di jaringan.
  • PGE2 — efeknya kompleks: di satu sisi bersifat pro-inflamasi (vasodilatasi, nyeri), di sisi lain dapat menekan beberapa jalur inflamasi. Keseimbangan PGE2 menentukan apakah inflamasi memburuk atau mereda.

Implikasi untuk terapi

Pemahaman dua jalur ini menjelaskan strategi farmakologi modern:

  • Anti-leukotrien (montelukast) — memblokir reseptor cysteinyl leukotrienes (CysLT1), mengurangi edema, sekresi mukus, dan bronkokonstriksi. Sangat berguna sebagai terapi tambahan untuk pasien yang hidung tersumbatnya tidak terkontrol dengan antihistamin saja.
  • Kortikosteroid intranasal — menghambat fosfolipase A2 (mengurangi produksi asam arakidonat), sehingga menekan KEDUA jalur — prostaglandin dan leukotrien — sekaligus. Ini alasan mengapa kortikosteroid intranasal adalah terapi paling efektif untuk rinitis alergi.
  • Kombinasi antihistamin + anti-leukotrien — untuk pasien dengan gejala campuran (bersin + tersumbat), kombinasi ini mencakup baik mediator histamin maupun leukotrien.

Catatan medis. Informasi di halaman ini bersifat edukatif. Diagnosis dan terapi rinitis alergi harus berdasarkan pemeriksaan oleh dokter spesialis. Konsultasikan kondisi Anda ke Spesialis THT-BKL atau Konsultan Alergi Imunologi untuk penilaian yang akurat.

Cek pilek Anda dalam 2 menit

Skrining berbasis SFAR + ARIA. Hasil + rekomendasi terapi langsung di layar.

Mulai Skrining Gratis →

Ingin Tahu Lebih Lanjut?