Eosinofil dalam Respons Alergi — Sel Perusak yang Memperberat Peradangan

Jika sel mast memulai reaksi alergi, eosinofil yang memperpanjangnya. Sel ini bermigrasi dari darah ke mukosa hidung, melepaskan protein toksik, dan menjadi penyebab utama kerusakan jaringan pada alergi kronis.

Seri Penyakit Alergi Diterbitkan 20 Mei 2026 eosinofilECPMBPinflamasi kronis
Infografis eosinofil: rekrutmen via kemokin, rolling/selectin, adhesi/ICAM-1/VCAM-1, transmigrasi, pelepasan granul ECP dan MBP
Perjalanan eosinofil: dari sirkulasi darah melalui rolling, adhesi, dan transmigrasi ke mukosa — lalu melepaskan protein toksik ECP dan MBP

Apa itu eosinofil?

Eosinofil adalah salah satu jenis sel darah putih (leukosit) yang dikenali dari granulanya yang berwarna merah-oranye saat diwarnai dengan pewarna eosin. Dalam kondisi normal, eosinofil hanya merupakan 1–4% dari total leukosit darah dan berperan melawan infeksi parasit.

Namun pada penderita alergi, produksi eosinofil meningkat drastis di sumsum tulang — didorong oleh sitokin IL-5 yang dihasilkan sel Th2. Eosinofil kemudian bermigrasi ke jaringan yang mengalami inflamasi alergi, termasuk mukosa hidung, dan menjadi "pemain utama" dalam fase lambat reaksi alergi.

Perjalanan eosinofil dari darah ke mukosa

Eosinofil tidak bisa langsung "melompat" dari pembuluh darah ke jaringan. Ada proses multi-tahap yang sangat teratur:

1. Pemanggilan oleh kemokin

Sel mast dan sel Th2 di mukosa hidung melepaskan kemokin — zat kimia yang berfungsi sebagai "sinyal panggil" — terutama eotaxin (CCL11) dan RANTES (CCL5). Kemokin ini menyebar ke pembuluh darah terdekat dan "memanggil" eosinofil dari sirkulasi.

2. Rolling — berguling di dinding pembuluh

Eosinofil yang merespons sinyal kemokin mulai berguling pelan di permukaan dalam pembuluh darah. Proses ini dimediasi oleh interaksi antara selectin (molekul di permukaan sel endotel pembuluh darah) dan ligandnya di permukaan eosinofil. Rolling memperlambat eosinofil agar bisa "membaca" sinyal dari jaringan.

3. Adhesi — menempel kuat

Setelah menerima sinyal aktivasi dari kemokin, eosinofil mengekspresikan integrin di permukaannya yang mengikat dengan kuat ke:

  • ICAM-1 (Intercellular Adhesion Molecule-1) — di permukaan sel endotel
  • VCAM-1 (Vascular Cell Adhesion Molecule-1) — khusus untuk eosinofil, interaksi ini sangat penting karena VCAM-1 diupregulasi oleh IL-4 dan IL-13 dari sel Th2

4. Transmigrasi — menembus dinding pembuluh

Eosinofil kemudian "menyusup" melalui celah antar sel endotel, menembus membran basal pembuluh darah, dan masuk ke jaringan mukosa. Di sana, faktor-faktor anti-apoptosis (seperti IL-5 dan GM-CSF) memperpanjang waktu hidup eosinofil — yang normalnya hanya beberapa hari — menjadi berminggu-minggu.

Senjata eosinofil — protein granula yang merusak

Begitu berada di jaringan mukosa, eosinofil melepaskan isi granulanya yang mengandung protein-protein yang sangat toksik:

  • ECP (Eosinophil Cationic Protein) — merusak membran sel epitel, mengganggu fungsi sawar mukosa, dan neurotoksik. Kadar ECP di sekresi hidung digunakan sebagai biomarker keparahan rinitis alergi.
  • MBP (Major Basic Protein) — protein paling toksik dari eosinofil. Merusak epitel saluran napas secara langsung, meningkatkan hiperreaktivitas mukosa, dan memicu degranulasi sel mast — menciptakan lingkaran setan inflamasi.
  • EDN (Eosinophil-Derived Neurotoxin) — neurotoksik, berkontribusi pada hipersensitivitas saraf sensorik di mukosa.
  • EPO (Eosinophil Peroxidase) — menghasilkan oksidan yang merusak jaringan.

Dampak proinflamasi dan sitotoksik pada mukosa

Akumulasi eosinofil di mukosa hidung menyebabkan:

  • Kerusakan epitel — protein granula merusak sel-sel epitel bersilia, mengganggu fungsi pembersihan mukus.
  • Hiperreaktivitas — mukosa menjadi lebih sensitif terhadap alergen dan iritan non-spesifik.
  • Remodeling jaringan — pada paparan kronis, eosinofil menstimulasi fibrosis dan penebalan membran basal — perubahan yang bisa bersifat sebagian irreversibel.
  • Perekrutan sel inflamasi lain — eosinofil juga memproduksi sitokin dan leukotrien yang memanggil lebih banyak sel inflamasi, memperberat peradangan.

Eosinofil sebagai target terapi

Karena perannya yang sentral dalam inflamasi kronis, eosinofil menjadi target terapi penting:

  • Kortikosteroid intranasal — mengurangi jumlah eosinofil di mukosa secara signifikan dengan menghambat produksi sitokin pro-eosinofilik.
  • Anti-IL-5 (mepolizumab, reslizumab) — antibodi monoklonal yang secara spesifik mengurangi produksi dan kelangsungan hidup eosinofil. Digunakan pada asma eosinofilik berat dan rinosinusitis kronis dengan polip.
  • Imunoterapi alergi — secara bertahap mengurangi infiltrasi eosinofil di mukosa dengan menggeser respons imun dari Th2 ke Th1/Treg.

Catatan medis. Informasi di halaman ini bersifat edukatif. Diagnosis dan terapi rinitis alergi harus berdasarkan pemeriksaan oleh dokter spesialis. Konsultasikan kondisi Anda ke Spesialis THT-BKL atau Konsultan Alergi Imunologi untuk penilaian yang akurat.

Cek pilek Anda dalam 2 menit

Skrining berbasis SFAR + ARIA. Hasil + rekomendasi terapi langsung di layar.

Mulai Skrining Gratis →

Ingin Tahu Lebih Lanjut?